Sunday, March 13, 2011

Pengakuan Seorang Hamba



Dalam heningnya malam.. 
sebuah kilasan.. kejadian masa lalu.. terpampang.. hadir dalam angganku..
Menyentakkan hebat jiwa ini… 
Ya Allah…
Ada sebuah masa dalam hidupku
Ketika Aku sangat ingin mencintaiMU
Bersemangat lembar demi lembar dari berbagai macam buku kubaca dan pelajari
Untai demi untai kata para ustadz kuresapi
Tentang cinta para Nabi
Tentang kasih para sahabat.
Tentang mahabbah para perinduMU
Tentang kerinduan pada syuhada.
Lalu kutanamkan di jiwa…. dalam…. dalam…
Kutumbuhkan dalam mimpi-mimpi dan idealisme yang mengawang tinggiiii…. bersama awan
Tapi Ya Rabbi… kilasan lain.. segera mendera.. aku juga tersadarkan
Ada masa-masa yang penuh gejolak dan kegelisahan kembali menghadang..
selewat.. masa penuh madu.. sebelumnya..
Saat itu… aku  kembali mengambang..
Melayang layang terbawa keraguan… dan
Harapan akan kemilau dunia…
Detik, menit, jam, hari, pekan, bulan dan menjelang tahun…
Ku berada dalam ketidakpastian…
Hingga.. sebuah teguran.. menerpaku…
Membuatku tersadar akan kelalaian…
Aku kembali mencoba merangkak.. menggapai-gapai muka bumi
Memberanikan diri untuk meratap, memohon dengan penuh rasa hina dihadapanMU
Allahu Rahiim, Ilaahi Rabbii, perkenankanlah aku mencintaiMU.. semampuku..
Allahu Rahmaan, Ilaahi Rabbii, perkenankanlah aku mencintaiMU.. sebisaku
Dengan segala daya yang mampu kulakukan hanya untukMU
Ya Ilaahi
Aku memang belum sanggup mencintaiMU dengan kesabaran menanggung derita
Sebagaimana Nabi Ayyub, Nabi Musa, Nabi Isa…
Karena itu ijinkan aku memohon akan cintaMU.
Dalam keluh kesah pengaduanku padaMU
Atas derita batin dan jasadku..
Atas sakit dan ketakutanku..
Ya Rabbiii
Aku memang belum sanggup mencintaiMU seperti Abu Bakar yang menyedekahkan seluruh hartanya..
Aku juga belum sanggup menyerahkan separuh harta demi Jihad, sebagaimana yang dilakukan Umar
Dan..aku juga belum sanggup menyerahkan 1.000 ekor kuda untuk syiar DienMU, sebagaimana Ustman
Akupun hanya dapat terus menerus memohon.. kesempatan mencintaiMU, melalui seratus-dua ratus rupiah yang terulur pada tangan-tangan kecil, pada wanita-wanita tua, pada laki-laki cacat yang menadahkan tangan di sudut-sudut kota
Atau jika Engkau mau menerima.. , Aku bermohon atas keikhlasan.. yang terbawa di dalam hantaran makanan sederhana kepada handai taulan.
Ya Ilaahi,
aku memang belum sanggup mencintaiMu dengan cara khusyuknya sholat salah seorang sahabat NabiMu,.. yang dalam kekhusyukannya.. ia tak lagi merasakan panah musuh dicabut dari tubuhnya..
Aku hanya menghiba kasihMu.. dalam sholatku yang terbata-bata.. dalam ketergesaan untuk menyelesaikan kewajibanku yang lain.. Itupun.. masih saja kutimpa dengan ingatan yang melayang-layang entah kemana…
Ya Rabbii, Aku memang belum dapat beribadah seindah ibadah para sufi.. yang membaktikan hampir seluruh malamnya untuk berdua denganMU..
Ya… Aku hanya mampu mempersembahkan roka’at-rokaat singkat di sholatku..untuk mengharapkan RahmatMU.. diantara desah napas kepasrahan tidurku..
Ya Allah.. Yaa Rahmaan..
Aku belum sanggup mencintaiMU bagaikan para Al Hafidz dan Al Hafidzah.. yang melalui putaran malam dengan menyenandungkan Kalam-KalamMU..
Aku hanya mempersembahkan satu dua lembaran tilawah harian.. dan hafalan ayat yang hanya berbilang satu atau dua, dengan tundukan malu… merasa betapa tak pantasnya diri ini dihadapanMU.
Yaa Rahiim
Aku belumlah setegar Sumayah, seorang muslimah sejati yang melaksanakan  jihad kali pertama.., ia rela mengorbankan nyawanya.. dengan tusukan tombak menghujam diperutnya hingga tembus kebelakang.. hanya agar tetap dapat tegak berdiri dalam aqidahnya kepadaMU.. demi tegaknya DienMu dimuka bumi.
Aku hanya mampu berdakwah.. dalam dakwah yang seringkali tak mampu lantang… ataupun sering memilih diam karena khawatir  kehilangan duniaku..
Aku menghiba keridhoanMU.. atas cintaMu untuk upayaku yang hanya setitik… mencoba mendidik generasi baru.. generasi Qur’ani.. Walaupun.. aku sangatlah tahu, hal ini belumlah pantas.. disandingkan dengan wujud cinta Nabi Ibrahim yang sanggup dan rela tinggalkan putra bersama istrinya di padang tandus.. atau dengan kepatuhan beliau mengorbankan pemuda.. yang ia sangat cintai dan harap-harapkan dalam pengurbanan suci..
Ya Allah… Ya Rabbiii
Dengan segala apa yang baru bisa kucapai.. ijinkan airmata ini mengalir… memohon kasihMU.. memohon tatapanMU.. memohon uluran tanganMU.. memberiku kesempatan untuk tetap berdiri dan tertatih-tatih.. berusaha untuk menjadi makin baik dan bermakna dihadapanMU dari hari ke hari…
Ijinkan..Ya Allah… diakhir perjalanan hidupku nanti.. aku dapat menghadapMu dengan tanpa rasa malu.. tanpa rasa hina.. tanpa rasa tak berarti..
Ijinkan Ya Allah.. kerinduan.. akan diriMU.. yang akan membawaku melewati gerbang perpisahan dengan dunia..
Sedemikian penuh dan mendalamnya rasa itu.. sehingga… hanya kebahagiaan membuncah yang akan mengiringi langkahku menghadapMU
Ijinkan aku ya Allah… berkali-kali aku mendesahkan kata-kata itu.. bebarengan dengan mohon ampunku atas segala apa perintahMU yang belum-belum juga mampu aku lakukan.. dan laranganMu yang masih saja aku langgar..
Ya Allah…Tanpa ijinMu.. tak kan pernah ada seorang atau sesuatupun terwujud…
Dan ijinkan sekali lagi aku memohon.. untuk melengkapi perjalananku.. mencari keridhoanMU

No comments:

Post a Comment